Kamis, 11 Oktober 2012

monday, sept 10th 2012


Mimpi milik semua orang. Milik mereka yang berbakat ataupun yang enggak. Mimpi itu milik mereka yang mau berusaha, berusaha untuk mewujudkan mimpinya. Jangan pernah takut untuk bermimpi, karna mimpi adalah salah satu alasan kita untuk hidup. Mimpi adalah harapan kita. Tujuan hidup kita. Ketika kita bermimpi, tetaplah jadi diri kita.
Setiap manusia mempunyai bakatnya sendiri-sendiri. Mereka yang di takdirkan menjadi pelukis, mereka yang di takdirkan menjadi ilmuan, mereka yang ditakdirkan menjadi penulis, mereka yang di takdirkan menjadi penyanyi. Terkadang aku bertanya dalam hatiku sendiri, apa bakatku?? Hanyakah diriku sendiri yang tak memiliki bakat?? Adakah orang yang sama denganku??

Aku iri lho sama kamu..
Aku pengen kayak kamu, tapi be yourself kayaknya lebih keren. Kayaknya hidup kamu itu sempurna, kamu memiliki segalanya, tapi mensyukuri nikmat lebih baik. Kayaknya hidup kamu itu keren tapi jam tangan aku lebih keren.
Aku pengen pinter main piano. Aku pengen pinter nyanyi. Mnggambar, drum, sumuuua.... semuanya aku pengen jadi nomor satu..
Selalu aku ngerasa hidup aku kurang. Aku selalu pengen jadi orang lain. Selalu aku pengen jadi d’bezt tapi ini hanya khayal. Aku sadar aku makhluk yang egois yang nggak bisa mengendalikan emosiku sendiri. Yang selalu iri.

...........................sebuah pengungkapan hati yang terlalu jujur ...#keep smile

BEAUTIFUL STORY part 1


aku pengen nyoba-nyoba bikin cerita nih.. entah aku mau selesain atau enggak.. ini cuma sekadar simpanan pribadi :)

Beautiful story

Setiap orang punya haknya sendiri-sendiri untuk menangis, tertawa, bersedih, tersenyum, dan marah. Setiap orang punya haknya sendiri-sendiri untuk menguasai tentang hatinya, tentang kegiatannya, tentang pilihannya, tentang hidupnya.
Begitupun aku, aku punya hak untuk menangis, tertawa, bersedih, tersenyum, dan marah. Aku juga punya hak untuk mengatur suasana hatiku, kegiatanku, pilihanku, dan tentang hidupku.
Aku bukan tipe seseorang yang sering pura-pura. Apa yang ada di fikiranku slalu saja tanpa sadar atau dengan sadar aku utarakan. Aku akui, aku adalah tipe pemilih, siapapun yang nggak cocok bagiku, akan perlahan-lahan aku ‘deportasi’ dari fikiranku. Mungin kebanyakan orang menilai aku sombong, aku kejam, aku nggak asyik. Tapi inilah aku. Aku lebih suka diriku yang seperti ini.
Tapi meski seperti ini, aku masih tau kewajaranku. Aku masih tau rasa sopan santun, aku masih tau rasa trimakasih aku masih bisa mengerti perasaan orng lain yang ada di sekitarku. Tapi tetap, aku ingin BEBAS.

----**----

Hari ini terlihat biasa saja. Matahari masih bersinar dengan sewajarnya. Teman-temanku juga masih bersikap wajar padaku. Mereka masih tetap jauh dariku. Aku juga tetap menjalankan rutinitasku, tiap aku dengar bel istirahat berbunyi. Kaki kecil ini dengan lincah segera menuntunku ke perpustakaan. Aku teliti setiap rak yang ada di sana. Bila t’lah kutemukan buku yang cocok aku segera mencari tempat duduk dan membacanya. Itu hobiku.
Hobi ini sudah muncul sejak aku masih menduduki sedolah dasar. Karna aku memang dari kecil tak punya teman, menyendiri, dan pelarianku adalah dengan membaca. Waktu SD dulu pernah aku menemukan teman yang ‘care’ sama aku, yang nyambung sama aku. Kita bagaikan ranting dan daun yang slalu bersama. Saling menjaga, share cerita, seru deh kalau aku udah ngabung sama dia... apa aja bisa terjadi. Dia orangnya seru, cocok deh kalau udah ngomongin bola. Tapi waktu ngomongin makhluk aneh yang juga tinggal di bumi, nggak kalah seu..
Sayang, waktu kebersamaanku dan dia hanya selama 1th. Dia sekarang udah pindah dari kotaku. Sedih deh.. apalagi, hari perpisahan itu aku malah sempat bersitegang nggak jelas gitu deh. Dhita.. ‘aku rindu deh sama kamu.. dan semenjak aku masuk ke dunia SMP aku kembali lagi, menjadi orang yang ‘nggak asyik’.
Ah.. setelah aku ungkit-ungkit masa laluku, kembali aku membaca-baca buku yang ada di hadapanku. Sst.. aku jarang mbaca buku pelajaran, tapi kalau novel, buku cerita, atau apalah, bisa aku baca sampai 2 atau bahkan sampai 4 kali.
“hai..” sapa seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahku.
“juga..” balasku dengan diiringi senyum yang menghiasi bibirku.
“boleh aku duduk di sini??” tanyanya lembut.
“tentu boleh, kenapa enggak?? Emangnya ruangan di dalem udah penuh??” tanyaku penasaran.
“belum sih, cuman sejuk aja kalau di luar” jawabnya. Ia segera duduk di kursi menghadapku. Dipasangnya ‘earphone’ di telinganya. Aku memandangnya cara membaca buku. Santai. Saat itu aku bertemu pandang dengannya dan ia hanya tersenyum. Senyumnya seperti cowok kebanyakan. Manis. Ditambah kulitnya yang pulih mulus. Bak seorang pangeran. Matanya coklat kehitaman, bentuknya bulat. Pipinya cubby.

Sore ini cuaca sepertinya cerah setelah siang tedi sempat hujan. Aku berjalan sebentar di taman sekolah. Taman sekoahku cukup luas. Karna taman sekolah ini dimiliki oleh 2 sekolahan yang masih 1 yayasan, SMP PUTRA MERDEKA dan SMA PUTRA MERDEKA. Di tempat ini banyak digunakan untuk berolahraga, barmain melepaskan penat atau tempat untuk weekend bagi sekelompok anak, bagiku sendiri ini tempat untuk bertemu kakak laki-lakiku yang bersekolah di SMA PUTRA MERDEKA.
Sore ini aku memang tidak ada janjian dengan kakakku hanya saja aku ingin berjalan-jalan. Merasakan hembusan angin sore atau sekadar melihat basket sore ini.
“Schenita Keyla Renita Azzahra, tempat lahir di Medan, 28 Desember 1999. Asrama putri nomor 4b SMP PUTRA MERDEKA” tiba-tiba seseorang mengejutkanku. Aku terbingung-bingung menatapnya. Ia memakai topi sehingga menutupi sebagian wajahnya.
“siapa ya??” tanyaku polos. Ia membuka topinya dan menyodorkan sebuah kunci padaku.
“kayaknya kumci asrama kamu jatuh tadi” katanya. Aku menerima kunci warna perak tersebut.
“makasih....” aku ragu ingin memanggilnya siapa.
“Cakra” jawabnya sembari mengulurkan tangannya padaku. “anak 8A. Dan sepertinya aku tadi yang ketemu kamu deh di perpustakaan??”
“eh iya...” jawabku singkat. Hening sejenak. Eh, kamu bilang, kamu anak kelas 8A? Berarti juga 7A dong?? Kok aku nggak pernah lihat kamu ya??”
“aku-kan pindahan”
“pindahan??” tanyaku heran. Tanpa permisi dan tanpa persetujuanku dia duduk di sebelahku. Kini aku dan dia hanya terpaut beberapa cm.
“iya, pindahan dari Bogor. Aku di sini udah ada 3 hari lho, waktu masuk itu.. kamu sih, duduknya slalu paling pojok, di deretan cewek-cewek lagi jadi nggak liat aku!”
Aku dan Cakra bercerita panjang lebar. Mulai dari kesan pertama masuk sekolah ini. Murid-murid di sekolah ini. Kebiasaan pribadi masing-masing. Kesukaan, musik, olah raga, macem-macem deh, dan terakhir ia meminta nomor ponselku. Saat bel sore berbunyi, saat itulah kebersamaanku dengan Cakra terakhiri.
“bye... aku harap kita bisa ketemu lagi!” ia melambaikan tangan dan segera berlari ke gedung asrama putra. Aku hanya tersenyun dan membalas lambaian tangannya. Aku sendiri segera melangkahkan kaki menuju gedung asrama putri.

Sesampainya di kamar, aku segera melepaskan almamaterku dan menaruhnya ke bak baju. Siap mengantarkannya ke laundry. Hanya saja langkahku terhenti saat aku membuka pintu dan mendapati Sharen Nelwanda Oktavia, teman sekamarku menangis di depan pintu.