aku pengen nyoba-nyoba bikin cerita nih.. entah aku mau selesain atau enggak.. ini cuma sekadar simpanan pribadi :)
Beautiful story
Setiap
orang punya haknya sendiri-sendiri untuk menangis, tertawa, bersedih,
tersenyum, dan marah. Setiap orang punya haknya sendiri-sendiri untuk menguasai
tentang hatinya, tentang kegiatannya, tentang pilihannya, tentang hidupnya.
Begitupun
aku, aku punya hak untuk menangis, tertawa, bersedih, tersenyum, dan marah. Aku
juga punya hak untuk mengatur suasana hatiku, kegiatanku, pilihanku, dan
tentang hidupku.
Aku
bukan tipe seseorang yang sering pura-pura. Apa yang ada di fikiranku slalu
saja tanpa sadar atau dengan sadar aku utarakan. Aku akui, aku adalah tipe
pemilih, siapapun yang nggak cocok bagiku, akan perlahan-lahan aku ‘deportasi’
dari fikiranku. Mungin kebanyakan orang menilai aku sombong, aku kejam, aku
nggak asyik. Tapi inilah aku. Aku lebih suka diriku yang seperti ini.
Tapi
meski seperti ini, aku masih tau kewajaranku. Aku masih tau rasa sopan santun,
aku masih tau rasa trimakasih aku masih bisa mengerti perasaan orng lain yang
ada di sekitarku. Tapi tetap, aku ingin BEBAS.
----**----
Hari
ini terlihat biasa saja. Matahari masih bersinar dengan sewajarnya. Teman-temanku
juga masih bersikap wajar padaku. Mereka masih tetap jauh dariku. Aku juga
tetap menjalankan rutinitasku, tiap aku dengar bel istirahat berbunyi. Kaki kecil
ini dengan lincah segera menuntunku ke perpustakaan. Aku teliti setiap rak yang
ada di sana. Bila t’lah kutemukan buku yang cocok aku segera mencari tempat
duduk dan membacanya. Itu hobiku.
Hobi
ini sudah muncul sejak aku masih menduduki sedolah dasar. Karna aku memang dari
kecil tak punya teman, menyendiri, dan pelarianku adalah dengan membaca. Waktu SD
dulu pernah aku menemukan teman yang ‘care’ sama aku, yang nyambung sama aku. Kita
bagaikan ranting dan daun yang slalu bersama. Saling menjaga, share cerita,
seru deh kalau aku udah ngabung sama dia... apa aja bisa terjadi. Dia orangnya
seru, cocok deh kalau udah ngomongin bola. Tapi waktu ngomongin makhluk aneh
yang juga tinggal di bumi, nggak kalah seu..
Sayang,
waktu kebersamaanku dan dia hanya selama 1th. Dia sekarang udah pindah dari
kotaku. Sedih deh.. apalagi, hari perpisahan itu aku malah sempat bersitegang
nggak jelas gitu deh. Dhita.. ‘aku rindu deh sama kamu.. dan semenjak aku masuk
ke dunia SMP aku kembali lagi, menjadi orang yang ‘nggak asyik’.
Ah..
setelah aku ungkit-ungkit masa laluku, kembali aku membaca-baca buku yang ada
di hadapanku. Sst.. aku jarang mbaca buku pelajaran, tapi kalau novel, buku
cerita, atau apalah, bisa aku baca sampai 2 atau bahkan sampai 4 kali.
“hai..”
sapa seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahku.
“juga..”
balasku dengan diiringi senyum yang menghiasi bibirku.
“boleh
aku duduk di sini??” tanyanya lembut.
“tentu
boleh, kenapa enggak?? Emangnya ruangan di dalem udah penuh??” tanyaku
penasaran.
“belum
sih, cuman sejuk aja kalau di luar” jawabnya. Ia segera duduk di kursi
menghadapku. Dipasangnya ‘earphone’ di telinganya. Aku memandangnya cara
membaca buku. Santai. Saat itu aku bertemu pandang dengannya dan ia hanya
tersenyum. Senyumnya seperti cowok kebanyakan. Manis. Ditambah kulitnya yang
pulih mulus. Bak seorang pangeran. Matanya coklat kehitaman, bentuknya bulat. Pipinya
cubby.
Sore
ini cuaca sepertinya cerah setelah siang tedi sempat hujan. Aku berjalan
sebentar di taman sekolah. Taman sekoahku cukup luas. Karna taman sekolah ini
dimiliki oleh 2 sekolahan yang masih 1 yayasan, SMP PUTRA MERDEKA dan SMA PUTRA
MERDEKA. Di tempat ini banyak digunakan untuk berolahraga, barmain melepaskan
penat atau tempat untuk weekend bagi sekelompok anak, bagiku sendiri ini tempat
untuk bertemu kakak laki-lakiku yang bersekolah di SMA PUTRA MERDEKA.
Sore
ini aku memang tidak ada janjian dengan kakakku hanya saja aku ingin
berjalan-jalan. Merasakan hembusan angin sore atau sekadar melihat basket sore
ini.
“Schenita
Keyla Renita Azzahra, tempat lahir di Medan, 28 Desember 1999. Asrama putri
nomor 4b SMP PUTRA MERDEKA” tiba-tiba seseorang mengejutkanku. Aku terbingung-bingung
menatapnya. Ia memakai topi sehingga menutupi sebagian wajahnya.
“siapa
ya??” tanyaku polos. Ia membuka topinya dan menyodorkan sebuah kunci padaku.
“kayaknya
kumci asrama kamu jatuh tadi” katanya. Aku menerima kunci warna perak tersebut.
“makasih....”
aku ragu ingin memanggilnya siapa.
“Cakra”
jawabnya sembari mengulurkan tangannya padaku. “anak 8A. Dan sepertinya aku
tadi yang ketemu kamu deh di perpustakaan??”
“eh
iya...” jawabku singkat. Hening sejenak. Eh, kamu bilang, kamu anak kelas 8A? Berarti
juga 7A dong?? Kok aku nggak pernah lihat kamu ya??”
“aku-kan
pindahan”
“pindahan??”
tanyaku heran. Tanpa permisi dan tanpa persetujuanku dia duduk di sebelahku. Kini
aku dan dia hanya terpaut beberapa cm.
“iya,
pindahan dari Bogor. Aku di sini udah ada 3 hari lho, waktu masuk itu.. kamu
sih, duduknya slalu paling pojok, di deretan cewek-cewek lagi jadi nggak liat
aku!”
Aku
dan Cakra bercerita panjang lebar. Mulai dari kesan pertama masuk sekolah ini. Murid-murid
di sekolah ini. Kebiasaan pribadi masing-masing. Kesukaan, musik, olah raga, macem-macem
deh, dan terakhir ia meminta nomor ponselku. Saat bel sore berbunyi, saat
itulah kebersamaanku dengan Cakra terakhiri.
“bye...
aku harap kita bisa ketemu lagi!” ia melambaikan tangan dan segera berlari ke
gedung asrama putra. Aku hanya tersenyun dan membalas lambaian tangannya. Aku sendiri
segera melangkahkan kaki menuju gedung asrama putri.
Sesampainya
di kamar, aku segera melepaskan almamaterku dan menaruhnya ke bak baju. Siap mengantarkannya
ke laundry. Hanya saja langkahku terhenti saat aku membuka pintu dan mendapati
Sharen Nelwanda Oktavia, teman sekamarku menangis di depan pintu.